Da’wah Sirriyah

July 16, 2008

Sungguh bahagia orang-orang yang mendapatkan hidayah Allah berupa nikmat Islam. Karena sungguh, barang siapa telah berislam, bersyahadat "Laa ilaaha illallahu" ia telah mendapat 1 tiket menuju surga-Nya. Islam agama yang mulia, rahmat bagi semesta alam, yang telah disertakan padanya pedoman hidup yang jelas dan terang benderang bagi seluruh umat manusia, yaitu Qur’an dan Sunnah. Jelas sejelas terangnya mentari, membawa kabar gembira yang patut diketahui semua orang, tidak ada yang perlu disembunyikan darinya. Namun disayangkan diantara ummat muslim ada yang mendakwahkan Islam secara sembunyi-sembunyi, menutupi dakwahnya dari sebagian orang. Sungguh ini suatu kesalahan.

Seorang khalifah yang sekaligus ulama di zamannya, Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, beliau berkata : "Apabila kamu melihat ada sekelompok orang (kaum) saling berbisik-bisik tentang sesuatu mengenai agamanya, tanpa (melibatkan) orang umum, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka sedang membangun kesesatan". (Diriwayatkan Imam Ahmad di dalam kitab "Az-Zuhdi" dan Imam Ad-Darimi dalam "Sunan"-nya )
Hal senada juga disebutkan pula oleh Ibnul Jauzi rahimahullah dalam Tablis Iblis. Kemudian dalam Al-muntaqa An Nafis Syaikh Ali Hasan rahimahullah mengatakan "Agama kita adalah jelas lagi nyata, tiada yang tersembunyi, tersimpan, dan terrahasiakan. Maka sesungguhnya apa yang dilakukan oleh sebagian orang berupa sembunyi-sembunyi/berahasia-rahasian, adalah satu pintu kesesatan, wal-iyadzubillah ta’ala".More...

Memang benar bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada awal perkembangan Islam di Makkah. Namun hal ini tidak menjadi dalil bolehnya berdakwah secara sembunyi-sembunyi karena pada saat itu kondisi di Makkah belum memungkinkan untuk berdakwah secara terang-terangan. Karena bila dilakukan secara terang-terangan akan menimbulkan madharat yang besar bagi dakwah, yaitu intimidasi dari kaum kuffar, yang mereka bersikeras tidak mau bertauhid, padahal saat itu Rasulullah memfokuskan dakwahnya pada tauhid. Maka setelah Islam berkembang, sudah banyak penduduk Makkah yang memeluk Islam, kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan untuk berdakwah secara terang-terangan, maka fase dakwah sirriyah pun berakhir, dan sejak itu tidak ada lagi dakwah sirriyah. Allah telah memerintahkan Rasulullah dan kaum muslimin untuk secara terang-terangan mendakwahkan Islam dalam firman-Nya:

"Katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajakmu kepada (agama) Allah dengan hujjah yang nyata’ " (QS. Yusuf : 108)More...

Maka para ulama sepakat bahwa sirriyatud da’wah asalnya adalah haram. Hal tersebut menjadi boleh hanya pada kondisi tertentu, para ulama merumuskan kondisi tersebut yaitu:

  • Manakala kaum muslimin dalam keadaan tertindas (mustadl’afin) dan dalam keadaan mereka takut jika men-jahar-kan (berterang-terangan) Islam. Misalnya, berdakwah di negeri kafir yang sangat anti terhadap Islam.
  • Atau manakala seorang da’i dalam keadaan tidak mampu mengatakan bahwa dirinya seorang muslim.

Maka tidak ada alasan untuk berdakwah secara sirri di negeri kita ini. Dimana mayoritas penduduknya muslim serta kebebasan berpendapat sangat dihormati. Jika tabloid yang berisi ghibah saja bisa beredar bebas, sulit digugat, maka lebih lagi majlis-majlis ilmu syar’i, yang mengajarkan kebaikan, mengajarkan kebenaran, mengajarkan Qur’an dan Sunnah siapakah yang berani menggugat dan membubarkan majlis-majlis seperti ini?

Kita lihat para sahabat, para tabi’in, para ulama, apakah mereka berdakwah atau menuntut ilmu secara sirri? Tidak sama sekali. Jika para pendakwah sirriyah merahasiakan guru /murobbi mereka, maka perhatikan, Imam Malik berguru pada Imam Hanafi, murobbi Imam Syafi’i adalah Imam Malik, dan murobbi dari Imam Ahmad adalah Imam Syafi’i dan begitu seterusnya. Sangat jelas sekali! Bahkan para ulama dalam kitab-kitabnya sering menyebutkan guru-guru mereka dalam menuntut ilmu syar’i. Mereka mengatakan "Aku menuntut ilmu dari Imam Fulan dan Imam Fulan dan Imam Fulan….". Bahkan mereka (para ulama), sering menukil perkataan-perkataan guru mereka. Bila mereka berdakwah sirriyah, maka tentu hal itu tidak mereka lakukan. Bahkan Al Imam Syafi`i pernah mengatakan : "Aku pernah mengeluh kepada Imam Waqi`(guru beliau) tentang jeleknya hafalanku. Maka beliau membimbingku untuk meningggalkan maksiat Dan beliau berkata : ”Ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.” Yang hal ini terjadi setelah beliau (Imam Syafi’i) tidak sengaja berjalan dibelakang seorang wanita sehingga hafalannya ada yang hilang. Perhatikan !! Hal sepribadi ini, antara guru-murid, tidak dirahasiakan kepada ummat! Bahkan kisahnya masyhur hingga saat ini. Tentu kita tidak akan mendengar kisah ini bila Imam Waqi’ mendakwahi Imam Syafi’i secara sirri.

Kita lihat ilmu hadist, yang sanad merupakan elemen penting darinya. Dimana setiap periwayat haruslah orang dikenal diantara pada ulama sebagai orang yang alim (berilmu), berpemahaman baik, memiliki ingatan kuat, bermanhaj yang benar. Tidaklah ada seorang periwayat hadist tanpa syarat-syarat tersebut kecuali hadistnya akan dihukumi lemah/dhoif. yg Maka hal ini tidak akan diketahui jika mereka ber-sirriyah, sehingga tidak jelas siapa gurunya, bagaimana akhlaknya, bagaimana aqidahnya, darimana saja ia mendapatkan ilmu. Jika mereka para ulama periwayat hadist berdakwah secara sirriyah maka tentu kita tidak akan mendapati hadist shahih di masa ini.

Selain itu, para ulama juga mengatakan bahwa tidaklah sesuatu berusaha disembunyikan atau ditutup-tutupi kecuali itu merupakan salah satu indikasi keburukan. Maka Syaikh Ali Hasan dalam Al-Muntaqa An-Nafis min Tablis Iblis berpendapat bahwa orang-orang yang berdakwah secara sirri, kebanyakan dari mereka memiliki pemahaman yang menyimpang dari Qur’an dan Sunnah, mereka takut bila penyimpangannya diketahui, maka mereka pun bersirriyah. Misalnya, sebagian dari mereka dalam majlis-majlisnya berghibah terhadap pemerintah, mencela pemerintah, dan memupuk bibit-bibit kebencian terhadap pemerintah. Hal ini merupakan kemungkaran. Dan biasanya pemerintah tidak bisa mentoleransi majlis-majlis seperti ini. Maka jelaslah kenapa mereka bersirriyah.

Wahai ikhwah, mari kita renungkan, bila sekelompok orang berkumpul dengan menunjukkan tanda-tanda takut diketahui, mereka menutup pintu dan jendela, mencari tempat yang tersembunyi, merahasiakan guru mereka, merahasiakan teman-teman mereka, bukankah
secara naluriah kita akan memandang hal itu sangat aneh? Kemudian menimbulkan kecurigaan?Dinul Islam, dengan segala keluhuran, kesucian dan kejernihannya… berada diatas semuanya ini. Tak ada tempat di dalam Islam untuk menyembunyikan hakikat, menyembunyikan thariqah dan menyembunyikan maslak(jalan/manhaj)-nya.

"Setiap kerja (amal Islam) yang mencirikan watak rahasia serta berbau gerakan bawah tanah, apabila disangka bahwa hal itu hebat dan cerdik, dan bahwa musuh-musuhnya tidak bakal bisa melacak kegiatan tersebut dengan seluruh unsur-unsurnya, maka berarti ia berada dalam kelalaian. Sesungguhnya lorong-lorong kerahasiaan yang gelap merupakan lorong-lorong yang tepat guna menumbuhkan benih-benih yang aneh dan majhul (tidak jelas). (Fi An-Naqd Adz-Dzati, hal : 41 oleh Khalis Jalby)

Marilah kita renungkan bersama sabda Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, semoga Allah memelihara anda :

 

"SUNGGUH TELAH AKU TINGGALKAN KAMU DI ATAS (HUJJAH) PUTIH BERSERI YANG MALAM HARINYA SEPERTI SIANG HARINYA; TIDAK AKAN MENYELEWENG DARINYA KECUALI ORANG YANG BINASA" (Hadits Hasan, di-takhrij dalam Arba’iy Ad-Da’wah wad Du’at, No 6 )

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://miiugm.blogsome.com/2008/07/16/dawah-sirriyah/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.